SINAU


“Hikmah itu laksana burung, sementara pena adalah pemburunya”





courtesy : http://www.desktopwallpapers4.me/digital-art/paper-butterflies-out-of-a-book-17845/


Andrea Hirata, Merry Riana, Andrie Wongso, atau Karem Elshazley bukan satu satunya penulis yang menggembor-gemborkan soal mimpi. Hampir semua buku motivasi yang pernah kita temui atau kita baca, menjadikan “mimpi” sebagai headline utama dalam pencapaian kesuksesan seseorang, baik itu karir maupun kehidupan. Tapi kali ini saya gak akan bahas tentang “mimpi”atau “kesuksesan”. Karna sebenarnya saya juga masih berada dalam proses perwujudan kedua hal tersebut, jadi kurang asik aja kalau orang yang bukan apa banget bahas soal hal itu. Hmmmm... apakah yang saya bahas kali ini berkaitan dengan kedua hal tersebut? Saya rasa iya.

Oke, apa yang terfikir dari kutipan di atas?

Saya mengartikannya “jika ilmu adalah burung bukankah pena yang paling tepat untuk meraihnya”. . 

Menurut pendapat beberapa ahli sebut saja Mbah Notoatmojo, Om Winkel, Gagne, Whiterington, atau pakde pakde yang lainnya, belajar esensinya merupakan suatu proses perubahan yang tercermin dalam suatu aktivitas. Dalam Islam,  Allah berfirman dalam surat Al Alaq bahwa sudah jelas manusia diperintahkan untuk “membaca”secara implisit manusia diperintahkan untuk belajar.

Saya termasuk salah satu orang yang percaya bahwa mimpi bisa diraih dari proses belajar. Jangan diartikan belajar hanya diperoleh pada pendidikan formal dan non formal saja lho ya, pengalaman juga proses belajar (pengalaman hidup maksudnya, ups... hihihi). Belajar dari proses kegagalan (udah sering denger ye? Ungkapan klasik tapi emang bener). Ya pokoknya belajar. Saya percaya belajar merupakan ibadah sepanjang hayat.. dari mulai sperma memenangkan sel telur dan terjadi pembuahan, sesungguhnya proses kita belajar sudah dimulai, sampai akhirnya kita kembali jadi tanah, barulah kita trima rapor hasil belajar.

Jika senyum adalah sedekah paling mudah, maka belajar adalah ibadah yang paling menyenangkan sepanjang hayat”

Mari mlipir sedikit, saya inget waktu ibu saya cerita, kira-kira begini 

“Pas hamil kamu dulu nduk, ibu masih aja kerja bantuin jualan di toko eyang, kalau malem ibu rajin bacain surah Yusuf sama surah Maryam, bapak sukanya gitaran trus nyanyi berdua sama ibu, ibu bikinin kamu kelambu sendiri, sarung bantal, semua ibu bikin sendiri.”  

Dari cerita ibu, saya sangat bertrimakasih dan bersyukur , bahwa itu upaya ibu buat jadi guru untuk saya sejak masih dalam kandungan, apapun aktivitas ibu pada waktu itu, juga merupakan proses belajar untuk saya. Katanya  Prof. Dr. Truby dokter spesialis anak dan ahli bahasa serta antroplogi dari University of Miami, USA, proses belajar dimulai sejak dari kandungan. Jadi bener kalau belajar itu sepanjang hayat, dan apa yg diajarkan emak uee ya hasilnya seperti inilah, anaknya seneng dagang, seneng bikin bikin ga jelas, seneng musik meskipun gak bisa nyanyi dan maen alat musik, ya beginilah.

Oke back to the topic..

Kalau belajar merupakan upaya saya dalam meraih mimpi, trus apa yang saya pelajari?
Jujur yang paling berat itu belajar “mengalahkan hawa nafsu”. Asli berat banget, kalau pake prinsip 80/20 yang sempet saya posting kemarin, mungkin 80% dari trouble yang saya alami karna 20% tindakan saya yang cuma nurutin hawa nafsu. Mulai dari grusah grusuh, gak sabaran, moody, cepet emosian, terlalu banyak pacaran, buang waktu, kurang fokus, cepet ngeluh, boros, males, gak jelas sendiri dan masih banyak yang lain lainnya, itulah yang bikin susyah banget buat jalan maju. Bisa dibilang kalaupun kadarnya Cuma 0,01% aja, diakumulasiin mungkin bisa 20% bahkan lebih.

Suatu hari pernah ada temen yang tanya “lagi apa Za?” aku jawab lagi blajar. Dirinya bales“Lah hari gini masih belajar?”aku rodo mangkel sitik ( Baca : agak sebel dikit) oke dan karna males berpanjang kali lebar kali tinggi, maka aku jawab aja “Belajar kan bagian dari ibadah.” Sebenarnya saya kurang faham beliaunya bertanya seperti itu karna bercanda atau emang seriusan, kalau serius kok sangat disayangkan sekali sempit pemikirannya.
Jadi apa yang saya lakukan untuk terus belajar?

Saya hanya perlu terus bermimpi, karna mimpi adalah hal yang terus mendorong saya untuk terus belajar

Karna saya melewati banyak hal selama hampir 23 tahun, dan merupakan proses belajar yang berharga bagi saya, maka saya akan mulai dan mulai setiap harinya dengan 10 hal :

  •  Bahagia dan bersyukur
  •  Ikhlas
  • Berpegang pada tujuan 
  •  Menghadapi aib (kekurangan)
  • Fokus dan bersungguh – sungguh
  •  Mengetuk pintu yang benar
  •  Toleran
  • Tahan banting 
  •  Positif thinking
  • Tawakal.

“Karena saya yakin mimpi wanita hebat diraih dengan proses belajar yang tidak mudah, materi super sulit, dengan guru super keras dan kompetitor yang super berat”.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 komentar:

Posting Komentar